![]() |
| Polisi menangkap warga Jambi secara ilegal memperdagangkan kulit harimau Sumatra |
ASLIKARTU - Badan Konservasi Sumber Daya Alam Jambi (BKSDA) dan anggota kepolisian menangkap Fendi, alias Tendi, alias Seng Seng, karena kepemilikan ilegal dan perdagangan spesimen kulit harimau Sumatra (Phantera Tigris Sumatrae). Agen Poker
Tersangka berusia 33 tahun ini ditangkap di lingkungan Talang Banjar, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, pada 24 April 2020, Koordinator Rangers Jefriyanto, Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi mengatakan di sini, Selasa.
Anggota tim agensi berkolaborasi dengan penyelidik polisi setempat untuk mengungkap kasus ini setelah menelusuri upaya Fendi untuk menjual beberapa spesimen hewan liar, termasuk kulit harimau dan tanduk harimau, di Facebook, ungkapnya.
Selama penangkapannya, petugas dan penyelidik kepolisian juga menyita beberapa spesimen hewan yang terancam punah, termasuk kulit, taring, dan cakar harimau Sumatra, ia membenarkan.
Tersangka saat ini berada di bawah tahanan Polisi Kota Jambi, menunggu penyelidikan lebih lanjut.
ANTARA mencatat bahwa harimau Sumatra tetap rentan terhadap hilangnya habitat dan perburuan liar.
Di Indonesia, harimau Sumatra adalah satu-satunya spesies harimau yang masih hidup, karena negara tersebut telah kehilangan dua sub-spesies harimau hingga punah: harimau Bali yang punah pada tahun 1937 dan harimau Jawa pada tahun 1970-an.
Harimau Sumatra, yang terkecil dari semua harimau, saat ini adalah spesies yang terancam punah yang hanya ditemukan di Pulau Sumatra, pulau terbesar kedua di Indonesia.
Harimau berada di ambang kepunahan karena penggundulan hutan, perburuan liar, dan konflik antara hewan liar dan masyarakat setempat karena habitat mereka yang semakin menyusut.
Angka pasti harimau Sumatra yang tersisa di alam tidak jelas, meskipun perkiraan terbaru berkisar, di bawah 300 hingga mungkin 500 di 27 lokasi, termasuk di Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Tesso Nilo, dan Taman Nasional Gunung Leuser.
Menurut World Wildlife Fund (WWF), jumlahnya telah menurun, dari sekitar seribu di tahun 1970-an.
Laporan tahun 2009 oleh kementerian kehutanan menunjukkan bahwa konflik dengan manusia merupakan ancaman terbesar bagi konservasi. Laporan tersebut menyebutkan bahwa rata-rata, lima hingga 10 harimau Sumatra telah terbunuh setiap tahun sejak 1998. Agen Sakong








0 komentar:
Posting Komentar