![]() |
| Mencegah demam berdarah, malaria untuk menghindari beban kesehatan ganda di tengah korona |
ASLIKARTU - Ketika Indonesia berjuang melawan penyakit coronavirus yang baru, ancaman kesehatan lainnya menjulang bagi bangsa tropis dengan perubahan musim - yaitu penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti demam berdarah dan malaria. Agen Poker
Dalam periode transisi dari musim hujan ke musim kemarau, yang saat ini dialami negara tersebut, biasanya ada prevalensi tinggi demam berdarah dan malaria, yang diterjemahkan menjadi morbiditas dan mortalitas yang tinggi bagi banyak pasien di seluruh dunia.
Vektor nyamuk utama malaria adalah Anopheles, sedangkan dengue disebarkan oleh Aedes aegypty. Demam berdarah terjadi sepanjang tahun di Indonesia, dengan transmisi puncak di musim hujan, dari November hingga April.
Achmad Yurianto, juru bicara pemerintah untuk tanggapan COVID-19, telah berulang kali mendesak masyarakat Indonesia untuk tetap waspada terhadap demam berdarah.
"Kombinasi infeksi dengue dan COVID-19 bisa berakibat fatal bagi sistem kesehatan," kata Yurianto, yang juga direktur jenderal Departemen Kesehatan Indonesia untuk Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, pada 29 April 2020.
Selain itu, demam berdarah dan COVID-19 sulit dibedakan karena mereka memiliki fitur klinis dan laboratorium. Ada beberapa kasus yang salah didiagnosis sebagai demam berdarah, tetapi kemudian dikonfirmasi sebagai COVID-19.
Oleh karena itu, ketika orang-orang berlatih menjaga jarak sosial dengan tinggal di rumah, ia menyerukan untuk membersihkan rumah-rumah dari sampah dan menghancurkan tempat berkembang biak nyamuk, termasuk saluran air yang tersumbat dan senyawa yang tidak terurus.
“Di setiap rumah, kantor, sekolah, dan tempat-tempat umum lainnya, perlu untuk membentuk‘ Jumantik ’, atau monitor jentik, untuk memastikan tidak ada jentik nyamuk. Jika ditemukan, perlu segera dihancurkan karena faktor lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan nyamuk, ”saran Yurianto.
“Tetap di rumah dan hancurkan sarang nyamuk,” dia mengulangi.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Indonesia, negara ini telah mencatat 49.563 kasus demam berdarah dan 310 kematian dalam periode 1 Januari-27 April 2020.
Dari total kasus, Jawa Barat telah melaporkan jumlah infeksi tertinggi di 6.337, diikuti oleh Bali (6.050), Nusa Tenggara Timur (4.679), Lampung (4.115), dan Jawa Timur (3.715).
Empat puluh delapan orang meninggal karena demam berdarah di Nusa Tenggara Timur, 39 di Jawa Tengah, 33 di Jawa Barat, 31 di Jawa Timur, dan 17 di Lampung.
Saat kunjungan baru-baru ini ke Kupang, ibukota Nusa Tenggara Timur, Doni Monardo, kepala Satuan Tugas Percepatan Tanggapan COVID-19, mendesak pemerintah provinsi untuk tetap waspada terhadap wabah demam berdarah.
"Kita perlu mengingatkan pemerintah NTT untuk tidak hanya fokus pada kasus COVID-19, tetapi juga untuk mengantisipasi munculnya demam berdarah selama musim transisi," kata Doni Monardo, saat teleconference dengan Wakil Gubernur Nusa Tenggara, Josef A Nae Jadi saya.
Monardo juga meminta pihak berwenang setempat untuk mengingatkan penduduk setempat agar menjaga kebersihan di rumah mereka, selokan, sumur, dan kamar mandi, tempat nyamuk pembawa penyakit berkembang biak.
"Masyarakat harus secara rutin membersihkan lingkungannya masing-masing agar penduduk NTT terbebas dari wabah demam berdarah," kata Doni.
Sebelumnya, wakil ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Lestari Moerdijat, telah mendesak pemerintah untuk memberikan pertimbangan serius terhadap lonjakan kasus demam berdarah di negara ini baru-baru ini.
"Saya mengerti bahwa pemerintah saat ini menghadapi masalah kesehatan yang kompleks dan parah, khususnya wabah COVID-19. Tetapi, tren peningkatan jumlah kasus demam berdarah tidak boleh diabaikan," katanya.
Lestari Moerdijat menyerukan kewaspadaan karena angka kematian akibat demam berdarah cukup tinggi tahun lalu, dengan negara itu mencatat 354 kematian.
Politisi dari Partai Demokrat Nasional (NasDem) juga meminta pemerintah untuk memastikan ada kapasitas rumah sakit yang memadai untuk pasien yang menderita penyakit coronavirus yang baru serta demam berdarah.
Beberapa komunitas lingkungan di seluruh wilayah telah melakukan fogging nyamuk bulanan untuk membendung demam berdarah, yang kebanyakan menyerang anak-anak.
Di tengah pandemi COVID-19, malaria juga merupakan ancaman, terutama di Indonesia timur, yang merupakan daerah endemis malaria.
Pemerintah sedang berusaha mencegah peningkatan kasus malaria selama pandemi COVID-19, Siti Nadia Tarmizi, direktur Kementerian Kesehatan untuk Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Zoonosis dan Vektor Penyakit Menular, mengatakan baru-baru ini.
Seperti demam berdarah, malaria juga memiliki gejala yang mirip dengan COVID-19, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot, dan prosedur perawatannya merujuk pada protokol pencegahan COVID-19, katanya.
"Penderita malaria dapat terinfeksi penyakit lain, termasuk COVID-19," katanya.
Siti Nadia Tarmizi menyerukan peningkatan kewaspadaan karena penyebaran COVID-19 saat ini telah meluas ke daerah endemis malaria, terutama di Indonesia timur, seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.
"Karena itu, itu dapat menyebabkan beban kesehatan ganda," katanya.
Untuk melindungi petugas kesehatan dari virus korona, protokol pencegahan standar COVID-19 mengatur penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh mereka yang merawat pasien malaria.
Siti Nadia Tarmizi juga menegaskan perlunya mempraktekkan jarak fisik, memakai topeng, mencuci tangan dengan sabun, dan menghindari keramaian lebih dari lima orang, serta menggunakan kelambu untuk menghindari gigitan nyamuk.
Otoritas kesehatan regional harus memantau dan mengantisipasi malaria, dan memastikan stok obat anti-malaria memadai untuk dua hingga tiga bulan ke depan, tambahnya.
Pemerintah Indonesia bertujuan untuk menghilangkan malaria di 405 kabupaten dan kota pada tahun 2024. Periode 2020-2024 akan menjadi periode yang menentukan dalam upaya untuk mencapai Indonesia Bebas Malaria pada tahun 2030, dia menunjukkan.
"Sebagian besar kota di Jawa dan Bali sudah bebas malaria," katanya.
Menurut World Malaria Report terbaru, yang dirilis pada bulan Desember, 2019, ada 228 juta kasus malaria pada tahun 2018 dibandingkan dengan 231 juta kasus pada tahun 2017. Perkiraan jumlah kematian malaria mencapai 405.000 pada tahun 2018, dibandingkan dengan 416.000 kematian pada tahun 2017. Agen Sakong








0 komentar:
Posting Komentar