Sabtu, 18 April 2020

Siswa, universitas menghadapi tantangan ketika kelas bergerak online

Siswa, universitas menghadapi tantangan ketika kelas bergerak online
Siswa, universitas menghadapi tantangan ketika kelas bergerak online


ASLIKARTU - Biaya hidup untuk Aulia Bening Safira, Agen Poker seorang mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), telah menurun setelah kuliah kuliah diganti dengan kelas online untuk memungkinkan siswa melanjutkan studi di rumah.


Pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui mode online telah diimplementasikan di lembaga-lembaga pendidikan setelah penyebaran penyakit coronavirus baru, atau COVID-19.

Sebelum krisis COVID-19 mendorong kampus untuk menerapkan pembelajaran online, Aulia membutuhkan sekitar Rp2 juta per bulan untuk memenuhi biaya hidup.

Tetapi sekarang, biaya hidup Aulia telah berkurang karena dia tidak lagi tinggal di kos kosan dan telah pindah ke orang tuanya di Tambun, Bekasi, Jawa Barat.

Meskipun dia sekarang belajar online, tidak ada peningkatan dalam pengeluaran internetnya karena ada Wi-Fi di rumahnya, katanya.

"Dari pertimbangan finansial, kuliah online lebih efisien. Belajar dari rumah, kita tidak menghabiskan banyak uang untuk biaya, tugas pencetakan, dan tugas-tugas lain," katanya.

Namun demikian, pembelajaran jarak jauh memiliki kekurangan. Kuliah online kurang efektif dalam membangun pemahaman materi pelajaran, katanya.

"Materi yang disampaikan oleh dosen tidak sepenuhnya dipahami oleh saya. Karena ketika saya belajar online, saya berbaring, saya kurang fokus pada penjelasan dosen, dan tidak ada yang mengawasi saya. Di kelas tatap muka , dosen sepenuhnya mengawasi saya dan mahasiswa lainnya, "ungkapnya.

Aulia bukan satu-satunya siswa yang menghadapi kesulitan dengan kuliah online.

Feri Wantono, 23, seorang mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Jakarta, mengakui bahwa kuliah online kurang efektif, terutama untuk kursus yang membutuhkan sesi tanya jawab.

"Sinyal di lokasi siswa kadang-kadang buruk dan membuat koneksi internet terputus-putus. Ini terjadi ketika mahasiswa (melakukan) tatap muka (interaksi) dengan dosen melalui aplikasi Zoom," jelasnya.

Menggunakan aplikasi Zoom atau Google Meet untuk mengadakan sesi interaktif dengan dosen juga membutuhkan kuota internet yang besar.

"Selama kuliah online, data (Internet) terbuang sia-sia," katanya.

Dia merasa kuliah tatap muka lebih efektif untuk mata kuliah inti.

"Saya mengambil jurusan teknik sipil dan saat ini di semester 2. Kursus inti yang berkaitan dengan perhitungan memerlukan tanya jawab langsung (sesi) antara mahasiswa dan dosen. Pertanyaan dari mahasiswa langsung dijawab oleh dosen selama kuliah tatap muka," dia berkata.

Selama kuliah online, lanjutnya, pertanyaan dari mahasiswa terkadang tidak segera dijawab oleh dosen, sehingga menghambat pembelajaran.

"Misalnya, jika seorang siswa mengajukan pertanyaan hari ini, mungkin akan dijawab dua hari kemudian. Akhirnya, siswa menjadi tidak yakin dengan materi yang diajarkan, membuat mereka kurang antusias tentang belajar," katanya.

Pemahaman mahasiswa tentang materi kuliah selama kuliah tatap muka berkisar antara 75-90 persen. Tapi, untuk kuliah online, berkisar antara 50 persen hingga 60 persen.

"Menurut saya, selama kuliah online, mahasiswa tidak terlalu fokus ketika mendengarkan dosen. Karena ada mahasiswa yang belajar online sambil menonton televisi, makan, dan sebagainya," katanya.

Dia menambahkan materi kuliah dan tugas dapat diakses melalui aplikasi e-learning yang disiapkan oleh kampus, dan platform ini juga memungkinkan siswa untuk menyerahkan tugas.


"Kami juga menggunakan WhatsApp dan email untuk kuliah," kata siswa itu.

Seorang petugas menyemprotkan desinfektan di ruang kelas kampus Universitas Agiculture Bogor (IPB) di Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada 16 Maret 2020.
Seorang petugas menyemprotkan desinfektan di ruang kelas kampus Universitas Agiculture Bogor (IPB) di Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada 16 Maret 2020.
Pendapat Feri Wantono disuarakan oleh Tika Vera, 20, seorang mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Tika mengatakan bahwa tidak semua siswa senang dengan kuliah online.

"Ada sejumlah dosen yang secara teknologi cacat ketika menggunakan fasilitas yang ada seperti Zoom, Google Classroom, Xixao, layanan Whatsapp, email, dan sebagainya," tandasnya.

Ini membuat proses kuliah online kurang optimal jika dibandingkan dengan kuliah tatap muka, tambahnya.

"Seringkali, ada dosen yang bertanya bagaimana menggunakan Zoom dan Google Classroom," ungkapnya.

Biasanya, dosen semacam itu berusia 50 tahun ke atas.

"Tapi, ada juga dosen yang berusia di bawah 50 tahun yang meminta siswa bagaimana menggunakan aplikasi Zoom atau Google Classroom," katanya.

Selain itu, kekuatan sinyal internet juga mempengaruhi kualitas kuliah online.

Jika sinyalnya buruk, siswa akan kehilangan materi yang disampaikan oleh dosen.

"Untuk dapat bertemu (online) dengan dosen, mahasiswa menggunakan aplikasi Zoom. Dengan aplikasi ini, mereka dapat mendengar penjelasan dosen tentang suatu materi selama 40 menit. Zoom dapat digunakan secara gratis, tetapi durasi konferensi video dibatasi hanya 40 menit dan jumlah maksimum peserta dalam sesi adalah 100 orang, "katanya.

Selain itu, praktik tidak dapat dilakukan selama kuliah online, Tika menunjukkan.

"Saya mengambil jurusan pendidikan khusus, dan saat ini di semester 4. Sebenarnya, di semester 4, siswa banyak berlatih. Tapi, karena pandemi COVID-19, kami tidak bisa berlatih," katanya.

Meskipun demikian, Tika masih bersemangat untuk mengambil bagian dalam kuliah online dengan semua keterbatasan yang ada, mulai dari sinyal buruk hingga pemborosan data Internet.

Subsidi Pulsa

Sementara itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan kebijakan baru untuk mendorong universitas melakukan kuliah online dan mengeluarkan bimbingan kerja-dari-rumah.

Kebijakan tersebut meminta universitas untuk merealokasi biaya operasional.

Anggaran yang dialokasikan kembali dapat digunakan untuk membantu siswa belajar dari rumah, melalui langkah-langkah seperti pembelian kredit bersubsidi atau kuota internet gratis.

Tapi, kebijakan itu, menurut Tika, belum sepenuhnya dilaksanakan oleh kampus.

"Sampai sekarang, saya belum menerima subsidi untuk kuota internet dari kampus saya. Selain subsidi untuk kuota internet, harus ada diskon biaya kuliah untuk siswa," katanya.

Dia menyatakan harapan bahwa kampus akan dapat membuatnya lebih mudah bagi siswa untuk lulus kursus atau tugas akhir.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi di Kementerian Pendidikan, Paristiyanti Nurwardani, mengatakan Dewan Rektor Universitas Negeri di Indonesia telah menyetujui permintaan Kementerian Pendidikan.

Dia mengatakan Kementerian Pendidikan akan memberikan kampus otonomi dalam mempersiapkan skema bantuan dan penganggaran.

Menurut Paristiyanti, Departemen Pendidikan juga telah mengizinkan kampus untuk bekerja dengan penyedia layanan internet untuk menyediakan internet gratis kepada siswa.

Sekarang ada beberapa penyedia yang siap membantu kampus, tetapi jumlah mereka masih terbatas.

Sementara itu, beberapa universitas, seperti Universitas Gadjah Mada, menyediakan pulsa senilai Rp100 hingga Rp150 ribu per bulan kepada mahasiswa.

Universitas Veteran Jakarta memberikan bantuan pendidikan dalam bentuk pulsa senilai Rp50 ribu per bulan untuk setiap siswa. Agen Sakong

0 komentar:

Posting Komentar